MENU

Jumat, 10 Agustus 2012

Lumpur Lapindo "Disulap" Jadi Baterai



Empat mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) berhasil mengembangkan sebuah produk inovatif yang berasal dari lumpur Lapindo Sidoarjo berupa baterai kering. Keempat mahasiswa tersebut yakni Aji Christian Bani Adam, Umarudin, Oki Prisnawan Dani dan Yoga Pratama yang berhasil meraih Juara II Technopreneurship Kemenristek 2012.  
Karya mereka diberi nama Lusi Cell Battery, nama Lusi sendiri diambil dari kata Lumpur Sidoarjo.  "Sebagian besar orang menganggap keberadaan lumpur lapindo sebagai bencana, kami mencoba mengambil sisi positif dari bencana yang terjadi," ungkap mahasiswa jurusan kimia, Aji, Senin (6/8/2012).  
Ia mengatakan, kadar garam yang cukup tinggi ditambah dengan sejumlah kandungan logam seperti seng, natrium, lantanida, merkuri, timbal dan lainnya menjadi alasan mereka membuat produk inovatif tersebut.
"Logam yang terkandung dalam lumpur lapindo ini merupakan bahan-bahan yang digunakan dalam baterai kering," tambahnya.  
Penelitian hingga pembuatan produk yang dilakukan ungkapnya membutuhkan waktu sekitar 7 bulan sejak Desember 2011. Dalam melakukan penelitian tersebut, mereka mengaku rela untuk bolak-kalik Semarang-Sidoarjo. Namun segala capek tidak begitu dirasakan setelah karyanya diakui dan berhasil menyabet juara II Lomba Technopreneurship Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2012, yang digelar di Graha Widya Puspiptek Serpong, 9-21 Juli lalu.  
Ia menjelaskan, baterai kering ini diproduksi dengan konsep baterai primer atau sekali pakai seperti yang sering digunakan di masyarakat. Pengolahan lumpur lapindo menjadi baterai tersebut melalui proses ekstraksi pada logam yang dikandung pada lumpur dan dikomposisikan dengan bahan kimia lainnya.  
Hasil ekstraksi kemudian diolah menjadi sel kering yang kemudian dimasukkan dalam selongsong baterai. "Ekstraksinya butuh waktu satu hari tetapi pas memasukkan ke selongsong lebih cepat hanya sekitar 10-15 menit saja, sedangkan untuk selongsongnya kami masih memanfaatkan selongsong bekas," ujarnya.  
Berdasarkan uji yang dilakukan oleh tim tersebut, baterai ini justru memiliki kekuatan 10 persen lebih lama dibanding baterai pada umumnya. Pengujian tersebut dilakukan pada sebuah senter dengan durasi waktu lima jam.
Selain baterai, Aji mengaku akan memanfaatkan lumpur menjadi aki kering dan saat ini masih dalam tahap penelitian.  
Baterai yang sangat bermanfaat dan banyak digunakan oleh masyarakat ini juga dijual dengan harga murah yakni Rp 3.000 per bijinya. Namun jika membeli satu pak hanya seharga Rp 10 ribu berisi 4 buah baterai.
Sekali pembuatan baterai mereka mambutuhkan 2 kilogram lumpur untuk dijadikan 80 buah baterai. "Penjualan akan kami lakukan saat perayaan Hari Teknologi Nasional (Harteknas) di Bandung tanggal 8-11 Agustus , dan hasilnya akan diwujudkan dalam bentuk beras untuk diberikan pada korban lumpur," ungkapnya yang juga berencana akan mematenkan produk tersebut.  
Aji berharap produk ini bisa diterima di masyarakat sehingga bisa mengajak korban lumpur lapindo untuk membuat baterai agar para korban mendapatkan pekerjaan dan penghasilan.
Sementara itu, Pembantu Rektor III Unnes, Masrukhi mengaku sangat bangga dengan prestasi yang diraih mahasiswanya. Ia berharap prestasi ini bisa memotivasi mahasiswa lain untuk bisa berkarya dan berguna bagi masyarakat luas.

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...