MENU

Minggu, 15 Juli 2012

LANGKAH – LANGKAH PEMBINAAN SOPAN SANTUN

 

Preventif
Pada dasarnya langkah – langkah pembinaan sopan santun bagi siswa secara preventif meliputi seluruh upaya pembinaan yang continue, tidak terputus-putus, konsisten, meningkat secara kualitas sesuai waktu mulai dari TK, SD, SLTP, SLTA.
Pembinaan tersebut meliputi pendidikan latihan, pengembangan, permunculan, dan pembiasaan sikap dan perilaku sesuai norma nilai sopan santun yang pelaksanaanya tidak dapat dipisahkan dari agama dan budaya bangsa Indonesia.
Pembinaan sikap dan perilaku sesuai norma nilai sopan santun terhadap siswa akan berjalan efektif dan efisien bila para instruktur dibina dan dilatih dan dibiasakan bersikap sebagai berikut:
1. Keterlibatan langsung
2. Efektif efisien dan simpatik
3. Menumbuhkan ketertiban internal
4. Siswa harus sering dimunculkan atau dihadapkan dalam kenyataan hidup yang memang memerlukan    perlakuan tertentu.

Menghindari Kognisi sebanyak mungkin
Kognisi merupakan penunjang daripada pendekatan psikomotor bukan cara pendekatan yang utama.
1. Hindari memberikan kognisi dengan mengomel, menegur anggota didepan orang banyak, mengomel yang tidak mengenal batas waktu, tempat dan sasaran.
2. indari khotbah yang tidak tepat pada sasarannya.
3. Upayakan pendekatan 4 atau 6 mata ( Bapak / Ibu )
4. Meminta maaf kepada siswa, akan, sedang dan sesudah menyinggung adalah mutlak. 
Peristiwa yang sering terjadi pada saat menasehati dia memberikan pengarahan dan petunjuk walaupun disadari bahwa etnis anthropologik tidak orang tua meminta maaf kepada anak.

Pendekatan Psikomotor Pembiasaan
Adalah pendekatan yang utama dilaksanakan seiring dengan usia anak.
1. Pembiasaan penerapan sikap dan perilaku tertentu untuk mengahadapi masalah tertentu.
2. Sering dimunculkan dalam situasi dan kondisi tertentu yang membutuhkan sikap dan perilaku norma nilai sopan santun tertentu.
Penghargaan dan hukuman (reward atau punishment) adalah cara yang mungkin paling efektif.
3. Hindari punishment sebanyak mungkin, kembangkan reward system yang lebih banyak.
Hindari atau jangan mempergunakan hukuman fisik badaniah.
4. Jangan merendahkan martabat siswa remaja didepan orang lain atau teman-temanya.
Jangan menjelekan teman siswa apapun keadaanya.
5. Perkuat perbuatan yang baik, perlemah perbuatan yang kurang baik.

Pendekatan Filisofis
1. Kurangi pemikiran masa lalu, pikir, ambil tindakan pada masa kini untuk mendapatkan masa esok yang cerah.
2. Selesaikan keterampilan yang dapat memberikan nafkah sedini mungkin.
3. Siswa dibiasakan mengalami konflik, tetapi konflik yang terselesaikan, dan hindarkan konflik mengambang yang dapat membuat penumpukan kemarahan terpendam.
4. Siswa tidak boleh dianggap anak kecil terus menerus, batas mendidik siswa adalah usia 18 tahun.
5. Jadilah pendengar yang baik bagi siswa yang sedang berbicara untukmendapatkan tanggapan ( response ) yang baik dari siswa.
6. Upayakan siswa selalu mampu memecahkan masalah.
7. Bila siswa menyimpang dari aturan sopan santun, peraturan, adat, hukum dan agama, maka harus diberitahu, tetapi jangan merendahkan harkat dan mertabat siswa.
8. Hormat kepada siswa adalah keharusan. ( dalam masalah sikap hormat kepada anak dan siswa perlu adanya konsesus nasional bagaimana tata caranya. Secara umum, hampir semua kultur etnis bangsa Indonesia cenderung anak harus mengormati orang tua dan tidak sebaliknya. Pandangan ini menurut situasi sekarang sebaiknya diubah. Anak yang dihormati akan menghayati rasa hormat dan diharapkan dapat menghormati orang lain. )
Penampilan fisik yang tepat dan benar 
Guru dan orang tua sukar memberikan sesuatu pandangan apabila penampilan diri pribadi, berdandan, cara bicara, intonasi, dan ritme yang kurang tepat.

Represif 
Pembinaan bagi siswa yang berprilaku menyimpang disamping dianjurkan pemeriksaan kepada psikiater, karena ada kemungkinan gangguan organik atau ganggguan jiwa, perlu pula dilakukan tindakan represif berupa tindakan hukum sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Tindakan represif disesuaikan dengan kalitas dan kuantitas penyimpangan sikap perilaku.
1.Teguran verbal ringan – sedang dan keras.
2.Teguran tulisan ringan – sedang dan keras.
3.Skorsing ringan – sedang dan berat.
4.Dikembalikan kepada orang tua.
5.Ke pengadilan.

http://v2ir.blogspot.com/2009/11/tata-krama-siswa-dan-sopan-santun.html




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...