MENU

Senin, 27 Agustus 2012

Anak Tidak Bahagia Lebih Materialistis




Anak-anak yang bahagia akan tumbuh menjadi anak yang mampu menjalani hidupnya dengan percaya diri. Untuk membentuk anak yang bahagia, pastikan kebutuhan fisik dan psikisnya terpenuhi, termasuk perhatian dari orangtuanya. Anak-anak yang kurang diperhatikan oleh orangtua mereka akan merasa tidak bahagia dan cenderung menjadi materialistis. 

Karena jarang ditemani oleh orangtuanya, biasanya anak akan lebih banyak menghabiskan waktunya di depan televisi. Padahal, anak bisa menjadi materialis terlebih bila keseharian mereka akrab dengan televisi. Iklan-iklan produk di televisi dinilai mengajarkan kepada anak-anak bahwa memiliki suatu barang adalah cara termudah untuk meningkatkan kebahagiaan.

Sebuah riset menjelaskan, anak-anak yang cenderung materialis percaya bahwa lewat benda dan produk-produklah kebahagiaan dan kesuksesan bisa diraih. "Iklan di televisi adalah penghasut. Anak-anak yang kurang puas dalam kehidupan mereka berubah menjadi meterialistis dari waktu ke waktu," kata Suzanna Opree, pimpinan riset.

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Jurusan Komunikasi Universitas Amsterdam menemukan data signifikan.  Sebanyak 466 anak-anak sebagai responden berpartisipasi pada survei online yang dimulai pada bulan Oktober 2006 dan Oktober 2007. 

Dalam survei, anak-anak diminta menanggapi ukuran materialisme, misalnya seberapa ingin mereka terhadap barang-barang atau produk yang dimiliki anak lainnya. Ukuran kebahagiaan anak-anak juga dinilai, mulai dari kehidupannya, rumah, orang tua, teman, sekolah, dan diri mereka sendiri.

Terkait iklan di televisi, anak-anak ini diminta menjawab seberapa sering mereka menonton televisi, dimana banyak produk iklan tampil dalam acara anak-anak. Kata para peneliti, anak-anak umumnya mudah tertarik karena bombardir iklan di televisi.

"Jumlah anak menonton televisi bervariasi jumlahnya. Di Inggris berdasar penelitian tahun 2007 ada 10.000. Di Amerika menurus studi tahun 2001 ada 40.000 anak," kata Opree.

Ia mengatakan ini bukanlah kasus ketidakpuasan akan acara televisi untuk anak-anak. Tetapi, anak-anak yang tidak bahagia hidupnya akan sangat rentan terhadap iklan dan mempengaruhi hidupnya ketika dewasa. 

Peneliti menyarankan orangtua agar berfokus menciptakan sumber-sumber kebahagiaan bagi anaknya. Hal tersebut bisa diciptakan lewat cinta, persahabatan, permainan, dan sikap tidak materialis. Tentu saja orangtua harus memberi contoh dan tindakan nyata karena anak belajar dari Anda, orangtuanya.

Marta Flaum, seorang psikolog anak di Chappaqua, New York, menilai penelitian ini sangat baik karena mengajarkan anak menjadi konsumen yang bijaksana dan kritis. Masalahnya, akan sangat terlambat ketika hal ini diterapkan untuk anak usia 8 - 10 tahun. 

"Rasanya terlambat menyuruh mereka mematikan televisi dan mengganti dengan aktivitas lain," ujarnya.

Cara mengatasi paling dini, ujar Flaum, dimulai ketika anak masih balita. Penanaman ini diajarkan lewat kebiasaan membantu orang lain dalam keluarga. Anak-anak kecil mungkin belum tahu apa manfaatnya dari membantu orang lain. Tapi, dengan cara ini mereka bisa menghabiskan waktu bersama orang tua dan ketika dewasa bisa terbangun rasa percaya diri dan kontrol yang baik. Intervensi dini ini bisa mencegah siklus ketidakbahagiaan anak-anak. 

Opree mengatakan, timnya memang belum menemukan efek panjang dari pengaruh iklan di televisi terhadap sifat materialis anak-anak setelah satu tahun. Namun, besar kemungkinan materialisme pada anak-anak menyebabkan ketidakpuasan hidup di kemudian hari.

»»  SETERUSNYA...

Tujuh Cara Bantu Anak Hadapi Perceraian




Ketika sepasang suami istri tak menemukan jalan lain selain bercerai, seluruh keluarga akan merasakan kesedihan terutama anak-anak. Penyangkalan, kemarahan, atau menjadi anak pemberontak merupakan beberapa reaksi anak menghadapi perceraian orang tuanya. Mereka harus bekerja keras menerima dan menyesuaikan diri dengan kehidupan baru yang sangat berbeda dari biasanya.

Meski demikian, anak-anak tidak harus menjadi korban terus menerus. Para ahli setuju, dengan beberapa strategi pendekatan, anak-anak bisa menerima arti perceraian dan menyembuhkan luka hatinya. 

1. Jujur
Orang tua secara halus dan perlahan menjelaskan masa transisi keluarga kepada anak-anak, serta bagaimana perceraian mempengaruhi hidup selanjutnya. Menurut Risa garon, Direktur Eksekutif dan Pendiri Badan Ketahanan Keluarga Nasional, penyampaian secara jujur perlu diketahui oleh anak, termasuk alasan orang tua bercerai terlepas dari usia mereka. Kadang, anak merasa perceraian terjadi karena kesalahannya. 
 
2. Pertimbangkan perasaaan anak
Garon menilai, salah satu masalah terbesar dari perceraian adalah hilangnya gambaran sebuah keluarga ideal, yang memberi rasa aman kepada anak-anak. Orang tua harus memahami, bahwa mungkin saja anak memiliki perasaan berbeda. Mereka mungkin syok, menolak, marah, sedih, khawatir, dan cemas. Anak juga merasa terisolasi, sendirian, dan ketakutan. Untuk mengetahui perasaan anak, orang tua bisa mengetahui dari
 buku bacaannya, gambar-gambar tentang perasaan anak, atau mendengar lirik lagu pilihannya.

3. Menjaga kehidupan tetap normal
Perceraian pasti membawa perubahan pada banyak hal, mulai rumah baru, sekolah baru serta cara hidup baru. Tetapi, Anda bisa membuatnya tidak terlalu traumatis bagi anak. Pastikan anak menjalani aktivitasnya senormal mungkin. Menurut Karen Buscemi, penulis buku I Do, Part 2: How to Survive Divorce, Co-Parent Your Kids, and Blend Your Families Without Losing Your Mind, yang terbaik bagi anak adalah tetap aktif berpartisipasi dalam kegiatan sama, melihat teman-teman lama, dan bahkan tinggal di sekolah yang sama. Anak masih membutuhkan kedisiplinan sehingga orang tua harus setuju membagi peran yang sama seperti sebelumnya.

4. Tetap terhubung
Pengaturan kunjungan setelah orang tua bercerai kadang sulit bagi  anak-anak. Orang tua yang memiliki hak asuh tetap harus mendorong hubungan anak dengan mantan pasangannya meski jarang bersama-sama.

5. Jangan menjelekkan mantan
Sebuah perceraian membawa banyak emosi negatif, termasuk kata dan kalimat menyakitkan. Tetapi, apa pun itu jangan pernah melakukannya di depan anak-anak atau mereka sampai mendengarnya. Saat mendengar, ank-anak merasa menjadi bagian di dalamnya. Mereka merasa seperti sedang dimarahi dan miliknya direnggut. Menurut Garon, anak-anak akan selalu ingat soal citra orangtua yang mereka cintai. Jika ingin melampiaskan emosi negatif, Anda bisa bercerita kepada teman, keluarga, atau terapis.

6. Bekerja sama
Setelah cerai, cara yang bagus untuk tetap menjadi orang tua adalah tetap bekerja sama membesarkan anak. Di saaat mantan pasangan berhalangan, maka Anda bisa menggantikan perannya. Anda berdua perlu membuat kesepakatan mengenai siapa yang bertanggung jawab untuk sesuatu hal dan kapan. Jika Anda menjadi fleksibel, maka mantan Anda pun akan berlaku demikian, ujar Buscemi.

7. Dapatkan dukungan
Garon mengatakan, seperti halnya pernikahan sebagai sebuah proses, perceraian pun demikian. Dalam masa transisi ini, Anda membutuhkan dukungan dari keluarga besar. Terkait soal anak, cara terbaik mengatasi masa transisinya adalah dengan menempatkan anak dengan orang-orang yang peduli. Konseling, program pendidikan, dan kelompok di sekolah dapat membantu anak agar tidak merasa sendirian.


»»  SETERUSNYA...

3 Alasan Anak Susah Makan




Sebagai orang tua Anda pasti sering mengalami masalah anak susah makan, bahkan terkadang waktu makan menjadi waktu “perang” Anda dengan anak. Memaksa anak makan tanpa mengetahui alasan mengapa ia sulit makan hanya akan membuat ia trauma dan takut untuk makan. Karena itu, sebelum Anda membuat keputusan tertentu, cari tahu penyebab anak susah makan. Dr Vimaladewi Lukito, SpA, dalam talkshow"Feeding Difficulty in Children", di Tirtayu Healing Center, Jakarta, Sabtu (6/8/2011) lalu, mengemukakan beberapa kemungkinan alasannya berikut ini.

1. Kelainan 
Proses makan terjadi mulai dari memasukkan makanan ke mulut, kemudian mengunyah dan menelan, sehingga ketrampilan dan kemampuan sistem pergerakan motorik kasar di sekitar mulut sangat berperan dalam proses makan. Pergerakan motorik yang berupa koordinasi gerakan menggigit, mengunyah, dan menelan dilakukan oleh otot di rahang atas dan bawah, bibir, lidah, dan banyak otot lainnya di sekitar mulut.
Anak yang susah makan bisa jadi mengalami gangguan otot dan saraf yang menyebabkan pergerakan motorik pada daerah sekitar mulut terganggu. Kondisi seperti ini disebut Cerebral Palsy, yaitu kelainan fungsi otot dan urat saraf (neuromuscular disorder) yang menyebabkan terjadinya kelainan pada fungsi anggota gerak, baik anggota gerak atas maupun anggota gerak bawah.
Kelainan ini menyebabkan anak sulit mengunyah, sehingga makan menjadi proses yang tidak menyenangkan. Terapi sangat diperlukan untuk anak yang mengalami kelainan ini untuk melatih kekuatan otot motorik daerah sekitar mulutnya, sehingga mereka tidak lagi kesusahan untuk mengunyah.

2. Penyakit
Gangguan nafsu makan juga dapat disebabkan  karena gangguan saluran cerna, penyakit infeksi akut atau kronis (TBC, cacing, dan lain-lain), alergi makanan, intoleransi makanan, dan lain sebagainya. Gangguan pencernaan tersebut kadang tampak ringan seperti tidak ada gangguan. Tanda dan gejala yang  menunjukkan adanya gangguan pencernaan adalah perut kembung, sering cegukan, sering buang angin, sering muntah atau seperti hendak muntah bila disuapi makanan, gampang timbul muntah terutama bila menangis, berteriak, tertawa, berlari, atau marah. Selain itu juga sulit buang air besar (bila buang air besar anak “ngeden” berlebih). 

3. Picky eaters
Kemungkinan ketiga dan yang merupakan kemungkinan paling umum dialami oleh anak-anak adalah, ia termasuk “picky eaters” atau pemilih makanan. Banyak hal yang menyebabkan si kecil menjadipicky eaters, antara lain ketidaksukaan terhadap salah satu anggota keluarga, makanan yang disajikan tampak tidak menarik, atau anak ingin mencari perhatian karena ibu hamil lagi atau ibu sibuk dengan pekerjaan di kantor. Biasanya picky eaters ini terjadi pada anak pertama atau anak tunggal, karena mereka cenderung meminta perhatian lebih dari sang ibu. Biasanya mereka juga tergolong normal dan aktif.


»»  SETERUSNYA...

Anak Melepeh Bukan Berarti Tak Doyan Makan




Banyak cara dilakukan anak untuk menolak setiap makanan yang disodorkan. Salah satunya adalah melepeh atau memuntahkan makanan yang sudah masuk ke mulutnya. Jangan langsung menyerah, aksi melepeh makanan tak selalu karena mereka tak doyan makan.

Menurut Ayu Anggraeni Dyah Purbasari, ahli gizi, anak melepeh makanan bisa jadi karena mereka sedang belajar makan serta mengorganisasikan makanan di mulut. Karena itu menurut dia orangtua tak perlu khawatir dengan cepat-cepat mengganti menu baru, bingung, atau mengancam anak. 

Melepeh makanan termasuk dalam proses belajar makan anak. Anak melepeh kemungkinan karena belum terbiasa mengunyah makanan, gigi belum tumbuh sempurna, atau lidah belum terbiasa dengan rasa makanan baru.

"Orangtua perlu mengenali penyebabnya dengan mencoba lagi menyuap atau memberi contoh ke anak. Misalnya, anak tidak tahu makanan harus ditelan. Jadi ibu harus beri contoh bagaimana mengunyah dan menelan makanan agar ditiru," ujar ahli gizi dari Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Jakarta II ini.

Selain mengajarkan bagaimana proses mengunyah dan menelan makanan, orangtua perlu menciptakan saat makan menjadi kegiatan yang menyenangkan. Menurut Anggraeni, orangtua  sebaiknya tidak membiasakan memberi hadiah dan hukuman pada anak saat makan. Dikhawatirkan ke depan, anak mau makan hanya jika diberi sesuatu bukan berdasar kebutuhan dasar manusia.

Saran Anggraeni, orangtua lebih kreatif menyajikan menu makanan dengan penuh imajinasi. Lakukan pula variasi menu makan sehingga anak tidak bosan. Orangtua juga dapat menggunakan alat makan kesukaan anak dan biarkan mereka memilih sendiri alat makannya saat membeli.

»»  SETERUSNYA...

Pedasnya Cabai, Cegah Kanker Sampai Redakan Nyeri




Sambal termasuk dalam kuliner Indonesia yang bisa membuat makanan terasa lebih nikmat dan merangsang nafsu makan. Di balik itu, ternyata rasa pedas dari sambal tersebut memiliki manfaat untuk mengurangi rasa nyeri bahkan pencegahan kanker.

Capcaisin, zat yang menimbulkan rasa pedas pada cabai, diketahui efektif untuk mengurangi nyeri akibat penyakit artritis, rasa gatal, bahkan nyeri saraf.

"Saat kita makan cabai yang pedas tubuh akan mengeluarkan endorfin untuk menghambat rasa panas yang dianggap tubuh sebagai rasa nyeri," kata Paul Bosland, direktur New Mexico State University Chile Pepper Institute.

Menurut dia, capcaisin juga bisa dimanfaatkan untuk orang-orang yang menderita penyakit psoriasis untuk mengurangi rasa gatal dan inflamasi. 

Beberapa penelitian juga mengaitkan capcaisin dengan penurunan berat badan, meski belum didukung oleh data-data yang kuat. 

Dr. Ashwin Mehta, dari University of Miami's Miller School of Medicine, mengatakan capcaisin diduga kuat mampu membunuh sel kanker prostat. "Dalam tes di laboratorium para peneliti menemukan kaitan tara peningkatan kematian sel kanker dengan capcaisin," katanya.

Ada juga studi yang menemukan bahwa orang yang sering mengasup cabai lebih jarang menderita kanker prostat. "Ini tidak berarti cabai mengobati kanker prostat, tetapi untuk pencegahan," kata Bosland.

Ia menjelaskan, cabai juga sarat akan karotenoid dan flavonoid, yang bisa melawan radikal bebas dalam tubuh. Seperti diketahui radikal bebas adalah penyebab kanker.

Menurut penelitian para ilmuwan dari Universitas Maryland Medical Center, capcaisin yang sudah dilarutkan juga bisa dipakai untuk mengatasi infeksi telinga. Bahkan ada penelitian yang mengaitkan komponen itu untuk mengatasi heartburn. 

Namun capcaisin yang dipakai dalam penelitian-penelitian tersebut adalah capcaisin murni yang sudah diekstrak dan mengandung 15 juta scoville unit, atau ukuran tingkat kepedasan cabai.

Sebagai perbandingan, cabai paling pedas di dunia, yakni Trinidad Moruga Scorpion, mengandung 1,2 juta scoville unit, dan jalapeno mengandung 5.000 unit. Efek panas setelah mengonsumsi cabai-cabai tersebut bisa bertahan sampai 20 menit.

»»  SETERUSNYA...

Membunyikan Buku Jari Menyebabkan Artritis?




Lama mengetik dan menulis kadang membuat jari-jari Anda lelah. Beberapa orang merasa lega saat membunyikan buku jarinya sampai berbunyi seperti suara kacang panjang dipatahkan. Membunyikan buku jari memang melegakan, namun benarkah hal ini menyebabkan artritis?

Artritis adalah peradangan pada satu atau lebih persendian yang disertai rasa sakit, begkak, kaku dan menyebabkan keterbatasan gerak. Artristis banyak jenisnya, bentuk paling umum adalah Osteoartritis yang disebabkan trauma dan infeksi persendian dan usia. 

Menurut Mehmet c. Oz, M.D dan Michael F. Roizen, M.D dalam bukunya An Insider's Guide to the Body That Will Make You Healthier and Younger, suara yang keluar saat buku jari dilekukan, disebabkan tekanan tinggi akibat sedotan gas yang dikeluarkan persendian ketika bergesekan. 

Membunyikan buku jari tidak akan mencelakakan persendian, tulang, dan otot Anda. Kecuali, ketika Anda melakukannya terasa sakit maka ada sesuatu yang salah pada jari-jari Anda. Jika terasa sakit, maka Anda perlu menemui dokter untuk memeriksakan kerusakan persendian yang mungkin Anda alami. 

Meskipun tidak berdampak pada paradangan, ada baiknya Anda mencari cara lain untuk mengurangi kelelahan pada buku jari. Beberapa penelitian memaparkan, kebiasaan membunyikan buku jari ini bisa menyebabkan lemahnya genggaman tangan serta mengurangi ketangkasan jari jemari Anda.

»»  SETERUSNYA...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...